Copyright © Holiday!
Design by Dzignine
Sabtu, 23 Maret 2013

PSIKOTERAPI PERILAKU (BEHAVIOR)

A.    Sejarah Perkembangan Terapi Perilaku
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan classical conditioning atau associative learning. Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
Watson dkk selama 1920 melakukan pengkondisian (conditioning) dan pelepasan kondisi (deconditioning) pada rasa takut, merupakan cikal bakal terapi perilaku formal. 
Terapi perilaku pertama kali ditemukan pada tahun 1953 dalam proyek penelitian oleh BF Skinner, Ogden Lindsley, dan Harry C. Salomo. Selain itu termasuk juga Wolpe Yusuf dan Hans Eysenck. Secara umum, terapi perilaku berasal dari tiga Negara, yaitu Afrika Selatan (Wolpe), Amerika Serikat (Skinner), dan Inggris (Rachman dan Eysenck) yang masing-masing memiliki pendekatan berbeda dalam melihat masalah perilaku. Eysenck memandang masalah perilaku sebagai interaksi antara karakteristik kepribadian, lingkungan, dan perilaku.
Skinner dkk. di Amerika Serikat menekankan pada operant conditioning yang menciptakan sebuah pendekatan fungsional untuk penilaian dan intervensi berfokus pada pengelolaan kontingensi seperti ekonomi dan aktivasi perilaku.
Ogden Lindsley merumuskan precision teaching, yang mengembangkan program grafik (bagan celeration) standar untuk memantau kemajuan klien. Skinner secara pribadi lebih tertarik pada program-program untuk meningkatkan pembelajaran pada mereka dengan atau tanpa cacat dan bekerja dengan Fred S. Keller untuk mengembangkan programmed instruction. Program ini dicoba ke dalam pusat rehabilitasi Aphasia dan berhasil. Gerald Patterson menggunakan program yang sama untuk mengembangkan teks untuk mengasuh anak-anak dengan masalah perilaku.

  B.     Teori, Konsep Dasar dan Tujuan Terapi Perilaku
Sebagai salah satu teknik psikoterapi, terapi perilaku realtif masih sangat muda,baru dipergunakan sejak 30 tahun yang lalu. Dalam kaitan dengan pengubahan perilaku (behavior modification), terdapat dua pendapat mengenai terapi perilaku. di dalamperkembangannya, terapi perilaku sebagai metode yang dipakai untuk mengubah perilakuatau arti umumnya sebagai salah satu teknik psikoterapi, menurut corey (1991) terdiri dari tiga tahap :
1.      Tahap pertama adalah tahap kondisioning klasik pada mana perilaku yang baru,dihasilkan dari individu secara pasif. Tokoh-tokoh pada kelompok ini ialah : Skinner (Science and Human Behavior); A. Lazarus (Behavior Therapy and Beyond) danEysenck (Behavior Therapy and The Neurosis).
2.      Tahap kedua adalah tahap kondisioning aktif [operant], dimana perubahan-perubahandi lingkungan yang terjadi akibat sesuatu perilaku, bisa berfungsi sebagai penguat-ulang [reinforcer] agar sesuatu perilaku bisa terus diperlihatkan, sehinggakemungkinan perilaku tersebut akan diperlihatkan terus dan semakin diperkuat.Tokoh utama pada tahap kedua ini adalah Skinner.
3.      Tahap ketiga adalah tahap kognitif. Sebagaimana diketahui bahwa munculnya terapiperilaku dengan cirri-ciri khas yang bertentangan dengan pendekatan psikoanalisis,psikodinamik, mengesampingkan konsep berfikir, konsep sikap dan konsep nilai.
Menurut Masters, et al (1987) ada beberapa paham dasar pada terapi perilaku, yakni :
a.       Dihubungkan dengan psikoterapi, terapi perilaku secara relative lebih memusatkanpada perilaku itu sendiri dan kurang memperhatikan factor penyebab yangmendasarinya. Khususnya psikoanalisi yang bertumpu pada keyakinan bahwa gejalayang muncul atau terlihat harus dihilangkan dengan menghilangkan sumberpenyebabnya, akarnya.
b.      Perilaku manusia dalam batas tertentu diperoleh melalui proses belajar, sama halnyadengan setiap perilaku lain. Pada terapi perilaku, memperhatikan secara khusus,bagaimana lingkungan mempengaruhi perilaku, antara lain dilihat dari sudut teori danproses belajar.
c.       Dasar-dasar psikologi, khususnya dasar teori dan proses belajar, dapat dipergunakansecara sangat efektif dalam mengubah perilaku malasuai. Namun tidak berarti bahwasemua perilaku malasuai bisa diubah dengan dasar pendekatan bhavioristik karenafactor biologic masih tetap dianggap.
d.      Terapi perilaku menentukan dan merumuskan tujuan khusus terapi. Meskipun tidak mengubah kepribadian secara keseluruhan, tetapi dengan menghilangkan respon-respon yang malasuai (sebagai sumberny)], diharapkan akan mempengaruhipeibadinya sebgai keseluruhan (sstotalitas).
e.       Terapi perilaku menolak teori klasik mengenai aspek dasar kepribadian (trait theory). Sebagaimana diketahui bahwa aspek dasar kepribadian adalah predisposisi untuk melakukan sesutau perilaku secara sama pada macam-macam situasi. Ada pengaruhdari situasi sebgai sumber perangsangan (stimulus) yang mempengaruhi jawabansecara berbeda pula.
f.       Terapis perilaku menyesuaikan metode terapinya dengan masalah yang ada padaklien.dalam terapi perilaku tidak lagi berlaku konsep metode tunggal dalammenghadapi persoalan yang dialami pasien.sebaliknya prosedur pelaksanaan terapiperlu disesuaikan dengan persoalan yang ada dan kondisi khusus pribadinya.
g.      Terapi perilaku memusatkan pada keadaan sekarang.dari sudut pendekatanpsikodinamok yang menitik beratkan terjadinya pemahaman terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat diyakininya akan mempunyai efek terapeutik.
h.      Terapis perilaku menilai hasil-hasil yang diperoleh secara empirik,merupakandukungan yang besar dalam mempergunakan macam-macam teknik.meskipun hasilobjektif melalui penelitian-penelitian,namun ada tingkatan-tingkatan misalnya:padakemantapan metodologi yang dipakai,sehingga kuantifikasi saja,tidak selalumenjamin akan adanya metodologi yang mantap yang menghasilkan sesuatu hasil penelitian.

Terapi perilaku bertujuan untuk mengubah perilaku manusia yang bisa diamati dan bisa diukur. Perubahan-perubahan itu dipilih oleh terapis bersama dengan kliennya. Karena pendekatan ini bertujuan melihat perubahan perilaku, beberapa problem lebih cocok dilakukan terapi perilaku daripada terapi lainnya. Terapis bersikap direktif, memberi petunjuk yang jelas tentang yang harus dilakukan agar bias menghasilkan perubahan.
Terapi perilaku berpandangan bahwa semua perilaku, baik berguna ataupun tidak, normal atau abnormal, dipelajari melalui pengkondisian operan atau klasik. Gejala-gejalanya dilihat sebagai perilaku yang tak diinginkan. Tujuan umum terapi perilaku adalah menghasilkan perubahan perilaku realistis yang diinginkan melalui pendekatan yang terencana dan konsisten. Terapi perilaku berasumsi bahwa emosi dan pikiran yang berubah akan otomatis mengikuti perilaku yang berubah. Ketika kecemasan dan ketakutan terjadi, tujuannya bukanlah menghilangkan perasaan itu sepenuhnya dari seseorang (tujuan yang tidak mungkin berhasil), namun membuat perasaan itu ke suatu titik yang bisa dipersepsikan dan dikelola daripada disingkirkan sama sekali.
Perkakas utama terapi perilaku adalah terapi paparan dan keterampilan dan pelatihan pengendalian diri yang masing-masing konsisten dengan prinsip-prinsip pengkondisian klasik dan pengkondisian operan. Seseorang dengan problem tertentu biasanya akan dikaji dan dirujuk untuk terapi perilaku jika sesuai. Jika orang itu dan problemnya sesuai untuk dilakukan terapi perilaku, asesmen perilaku penuh untuk problem itu akan dilakukan. Hal itu juga dikenal sebagai analisis perilaku.
Inti dari pendekatan terapi perilaku adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".

C.    Langkah-langkah Terapi Perilaku
1.      Asesmen
Seseorang dengan problem tertentu biasanya akan dikaji dan dirujuk untuk terapi perilaku jika sesuai (lihat bagian Klien mana yang paling mendapatkan manfaat). Jika orang itu dan problemnya sesuai untuk dilakukan terapi perilaku, asesmen perilaku penuh untuk problem itu akan dilakukan (Analisis Perilaku). Terapis menggunakan pendekatan direktif dan berorientasi masalah, mengajukan pertanyaan langsung kepada klien tentang masalahnya. Cara yang lebih ilmiah untuk mengkaji dan mengevaluasi lingkup problem adalah dengan menggunakan kuesioner.
2.      Proses Terapi
Begitu problem target telah dikaji penuh, terapeutik dimulai. Kemajuan dalam terapi dicapai dengan menjelaskan secara gamblang kepada klien tentang apa saja yang dilakukan dalam terapi, bagaimana prosesnya berjalan, apa yang diharapkan dari klien dan bagian yang diperankannya dalam kemajuannya sendiri. Kesulitan yang diantisipasinya akan dibahas secara terbuka dan dihasilkan solusinya.


3.      Terapi Paparan
Prinsip paparan selalu sama (seseorang yang takut anjing, justru akan dipapar anjing). Dengan paparan terus-menerus pada objek atau situasi yang ditakuti, awalnya kecemasan akan muncul, namun akhirnya memudar pada level yang bisa ditoleransi. Paparan dilakukan dengan cara yang terstruktur dan bisa dikelola, selalu dengan pemahaman dan persetujuan klien, namun juga dengan pemberian rasionalisasi yang jelas.
a.  Flooding, seseorang dipapar pada situasi yang paling ditakuti untuk periode yang lama, tetap dalam situasi itu hingga ketakutannya mereda.
b.  Implosi (Implosion), seseorang dipapar pada situasi yang paling ditakuti namun hanya dalam imajinasi
4.      Pelatihan Keterampilan
Pelatihan keterampilan dilakukan setahap demi setahap. Bidang-bidang umum yang ditangani terapis adalah pelatihan keterampilan asertif, pelatihan keterampilan social, dan pelatihan keterampilan seksual. Dalam pemodelan terapis mendemonstrasikan perilaku yang sesuai, komponen demi komponen, dan mendorong klien mengikuti contoh, memberi masukan dan pujian jika berkinerja bagus.
5.      Pelatihan Pengendalian Diri
Pelatihan pengendalian diri bertujuan membantu klien mengendalikan perilaku dan perasannya. Bentuk monitor diri (menyimpan catatan harian tentang perilaku bermasalah dan keadaan ketika itu terjadi) banyak digunakan dalam terapi perilaku, sehingga klien bisa mengidentifikasi petunjuk spesifik yang memicu perilaku bermasalahnya dan didorong untuk berlatih mengendalikan diri ketika perilaku itu muncul. Klien didorong untuk menghargai dirinya dengan berbagai cara jika ia bisa mengendalikan diri, maka disebut penguatan.
6.      Format Sesi Khas
Sesi asesmen utama berbeda dengan sesi yang sedang berjalan karena dirancang untuk menemukan banyak informasi tentang klien dan masalahnya. Sesi-sesi berikutnya pada tahap tertentu akan ditentukan oleh sifat dasar permasalahan tertentu klien, namun akan mengikuti rencana umum. Terapis menyambut klien dan menegosiasikan agenda untuk sesi-sesi terapi.

D.    Aplikasi dalam Pendidikan (Contoh Kasus)
Pendekatan behavioral dapat diaplikasikan menuju proses pembelajaran. Hal yang tampak terlihat diantaranya sebagai berikut :
a.       Bahan yang dipelajari dianalisis sampai pada unit-unit secara organis.
b.      Hasil berlajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan dan jika benar diperkuat.
c.       Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
d.       Materi pelajaran digunakan sistem modul.
e.       Tes lebih ditekankan untuk kepentingan diagnostic.
f.       Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
g.      Dalam proses pembelajaran tidak dikenakan hukuman.
h.      Dalam pendidikan mengutamakan mengubah lingkungan untuk mengindari pelanggaran agar tidak menghukum.
i.        Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah.
j.        Hadiah diberikan kadang-kadang (jika perlu).
k.      Tingkah laku yang diinginkan, dianalisis kecil-kecil, semakin meningkat mencapai tujuan.
l.        Dalam pembelajaran sebaiknya digunakan shaping.
m.    Mementingkan kebutuhan yang akan menimbulkan tingkah laku operan.
n.       Dalam belajar mengajar menggunakan teaching machine.
o.        Melaksanakan mastery learning yaitu mempelajari bahan secara tuntas menurut waktunya masing-masing karena tiap anak berbeda-beda iramanya. Sehingga naik atau tamat sekolah dalam waktu yang berbeda-beda. Tugas guru berat, administrasi kompleks.

 
DAFTAR PUSTAKA

Palmer, S. 2010. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
READ MORE - PSIKOTERAPI PERILAKU (BEHAVIOR)

KATA HATI ATAU HATI NURANI

-->
Kata hati (concience of man) juga sering disebut dengan istilah hati nurani, lubuk hati, suara hati, pelita hati, dsb. Pelita hati atau hati nurani menunjukan bahwa kata hati adalah kemampuan pada diri manusia yang memberikan penerangan tentang baik buruk perbuatannya sebagai manusia. Orang yang tidak memiliki pertimbangan dan kemampuan untuk mengambil keputusan tentang baik dan benar, buruk dan salah, ataupun kemampuan dalam mengambil keputusan tersebut hanya dari sudut pandang tertentu (misalkan sudut kepentingan diri) dikatakan bahwa kata hatinya tidak cukup tajam.
Keyakinan (conviction) yang rasional sangat dipengaruhi oleh hati manusia, seperti kebencian, kepahitan, berbohong, ketidak adilan, sedangkan karakter ini timbul akibat latar belakang dan lingkungan sekitar, karena orang tua, keluarga, suami atau isteri, kesehatan, ekonomi, pemerintah ataupun musuh. 
-->
A.    Pengertian Kata Hati atau Hati Nurani
Kata hati merupakan kemampuan membuat keputusan tentang yang baik-benar dan yang buruk-salah bagi manusia. Dalam kaitannya moral ataupun perbuatan. Hati nurani memerintahkan atau melarang kita melakukan sesuatu kini dan di sini. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret.
Hati nurani merupakan penerapan kesadaran moral yang tumbuh dan berkembang dalam hati manusia dalam situasi konkret. Suara hati menilai suatu tindakan manusia benar atau salah, baik atau buruk. Hati nurani tampil sebagai hakim yang baik dan jujur, walaupun dapat keliru. Dalam hati, manusia sebelum bertindak atau melakukan sesuatu, ia sudah mempunyai kesadaran atau pengetahuan umum bahwa ada yang baik dan ada yang buruk. Setiap orang memiliki kesadaran moral tersebut, walaupun kadar kesadarannya berbeda-beda. Pada saat-saat menjelang suatu tindakan etis, pada saat itu kata hati akan mengatakan perbuatan itu baik atau buruk. Jika perbuatan itu baik, kata hati muncul sebagai suara yang menyuruh dan jika perbuatan itu buruk, kata hati akan muncul sebagai suara yang melarang. Kata hati yang muncul pada saat ini disebut prakata hati.
Pada saat suatu tindakan dijalankan, kata hati masih tetap bekerja, yakni menyuruh atau melarang. Sesudah suatu tindakan, maka kata hati muncul sebagai hakim yang memberi vonis. Untuk perbuatan yang baik, kata hati akan memuji, sehingga membuat orang merasa bangga dan bahagia. Namun, jika perbuatan itu buruk atau jahat, maka kata hati akan menyalahkan, sehingga, orang merasa gelisah, malu, putus asa, menyesal.
Hanya manusia yang memunyai kesadaran. Hewan tidak. Kesadaran berarti kesanggupan mengenal diri sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Manusia bukan hanya melihat pohon di kejauhan sana, melainkan menyadari bahwa dialah yang melihatnya. Dalam diri manusia terjadi semacam penggandaan: ia bisa kembali kepada dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi subjek yang mengamati juga sebagai objek yang diamati.
Hati nurani dapat salah, dapat membuat keputusan moral yang palsu. Sebagimana orang bisa membuat kesalahan-kesalahan dalam bidang hidup lainnya, demikian ia juga bisa salah dalam tingkah laku peribadinya. Tetapi dalam kesemuanya itu manusia hanya punya satu bimbingan, yaitu inteleknya. Hati nurani kita memberi batasan dalam keputusan peraktis akal budi yang mengatakan suatu perubahan buruk maka harus dihindari.
Ada tiga hal yang di cangkup dalam hati nurani:
1.      Intelek sebagai kemampuan yang membentuk keputusan-keputusan tentang perbuatan-perbuatan individual yang benar dan salah.
2.      Proses pemikiran yang ditempuh intelek guna mencapai keputusan semacam itu.
3.      Keputusan sendiri yang merupakan kesimpulan proses pemikiran,
Hati nurani sebenarnya hanya mengatakan yang paling akhir itu, tetapi memuat hal lainya diatas. Maka hati nurani bisa kita artikan ketiga poin diatas.
Hati nurani merupakan penuntun dalam perbuatan-perbuatan yang akan datang, mendorong kita untuk mengerjakannya atau menghindarinya, atau merupakan hakim atas perbuatan yang telah lalu, sumber pembenaran diri atau sumber rasa sesal kita. Oleh karena itu keputusan hati nurani adalah keputusan intelek dan intelek bisa sesaat karena memakai premis-premis yang palsu karena menarik keputusan yang tidak logis, maka hati nurani juga seksama atau keliru. Hati nurani yang seksama adalah hati nurani yang memutuskan sebagai baik hal yang benar-benar baik, atau memutuskan hal yang benar-benar buruk.

B.     Fungsi Kata Hati atau Hati Nurani
Fungsi kata hati atau hati nurani yaitu sebagai pedoman, pegangan atau norma untuk menilai sesuatu tindakan, apakah tindakan tersebut baik atau buruk. Sebagai pegangan atau peraturan-peraturan kongkrit didalam kehidupan sehari-hari dan menyadarkan manusia akan nilai dan harkat dirinya.
Sikap kita terhadap hati nurani adalah menghormati setiap suara hati yang keluar dari hati nurani kita. Mendengarkan dengan cermat dan teliti setiap bisikan hati nurani.
Mempertimbangkan secara masak dan dengan pikiran sehat apa yang dikatakan hati nurani. Melaksanakan apa yang disuruh hati nurani.
 
C.     Ciri Khas Kata Hati atau Hati Nurani
Ciri khas dari suara hati nurani adalah ia tidak dapat ditawar dan hanya sepintas keluarnya dengan atau tanpa disadari, ini berlaku mutlak. Mutlak di sini mempunyai arti ia tidak dapat ditawar melalui pertimbangan-pertimbangan dalam bentuk apapun. Hal itu disebkan karena suara hati nurani merupakan suara dari Maha Mutlak. Tempat berkumpulnya bagi mereka yang hatinya bersih dan tak bernoda dan tempat mengingat Tuhan itulah Hati Nurani. Suara hati adalah suara halus yang murni datang langsung dari kesadaran sang Hidup yang ada dalam diri kita yang paling dalam yang bersih dan jujur, tanpa adanya pertimbangan dalam memberikan jawaban. Suara hati ini tidak akan keluar jika hati nurani.
 
READ MORE - KATA HATI ATAU HATI NURANI
Selasa, 03 April 2012

EMOSI

  Pengertian Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak.
Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).
Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
  • Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
  • Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
  • Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
  • Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
  • Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,  dan kemesraan
  • Terkejut : terkesiap, terkejut
  • Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
  •  malu : malu hati, kesal
Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.
Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Emosi
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung kepada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 2002: 154). Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lainnya dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
1.   Faktor Kematangan
Reaksi emosional tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul dikemudian hari dengan berfungsinya sistem endokrin. Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Karena bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologi terhadap stres.
Kelenjar adrenalin yang memainkan peran utama pada emosi mengecil secara tajam setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia 5 tahun, pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar.
2.   Faktor Belajar
Kegiatan belajar turut menunjang perkembangan kematangan emosi remaja karena kemampuan mengingat mempengaruhi reaksi emosional. Adapun metode belajar yang menunjang perkembangan kematangan emosi remaja antara lain
  1. belajar dengan coba-coba yaitu untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan,
  2. belajar dengan cara meniru yaitu dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi orang lain, anak-anak beraksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang yang diamati, 
  3. belajar dengan mempersamakan diri dengan jalan anak menirukan reaksi emosional orang lain yang tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru, 
  4. pelatihan atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi yaitu anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan.

Sedangkan menurut Sugeng Hariyadi, MS, dkk (1995 : 29-31) ada beberapa faktor dominan yang mempengaruhi pekembangan kematangan emosi remaja. Faktor-faktor terebut adalah
  1. Faktor perubahan jasmani yaitu ada ketidakseimbangan pada postur tubuh atau jasmani yang berakibat buruk pada perkembangan mental termasuk perkembangan kematangan emosi,
  2. Faktor perubahan dalam hubungannya dengan orang tua, sikap orang tua dalam mendidik anak misalnya secara otoriter, dengan memanjakan anak ataupun dengan sikap acuh tak acuh yang sikap ini dapat menyebabkan ketegangan yang berpengaruh pada perkembangan mental sekaligus perkembangan kematangan emosi, 
  3. Faktor perubahan dalam hubungannya dengan teman-teman, dengan membentuk geng atau kelompok yang semula tujuannya baik kemudian berkembang yang akhirnya mendatangkan masalah misalnya saja karena remaja mulai jatuh cinta yang tidak diharapkan oleh orang tua, 
  4. Faktor perubahan pandangan luar yang menyebabkan konflik, yaitu
  • sikap dunia luar terhadap anak remaja tidak konsisten misalnya dianggap sudah besar tetapi masih diperlakukan sebagai anak kecil, sehingga menjengkelkan dan bisa berubah menjadi tingkah laku yang emosional,
  • dunia luar masih mempunyai nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan perempuan misalnya bila remaja laki-laki banyak teman perempuan merupakan suatu kebanggaan bagi orang tua, sebaliknya bila perempuan mempunyai banyak teman laki-laki sering dijuluki “gila laki-laki” sudah pasti menyinggung perasaan gadis tersebut, yang hal ini tidak jarang menjadikan remaja bertingkah laku emosional, 
  • kekosongan yang sering dialami remaja dimanfaatkan oleh pihak yang kurang bertanggung jawab, misalnya dengan cara melibatkan remaja dalam penggunaan obat bius.

Implikasi Emosi dalam Kehidupan Sehari-hari
Emosi merupakan sesuatu yang muncul setiap hari, bahkan setiap saat dalam kehidupan kita. Emosi merupakan suatu pola yang kompleks dari perubahan yang terdiri dari reaksi fisiologis, perasaan-perasaan yang subyektif, proses kognitif, dan reaksi perilaku, yang semuanya itu merupakan respon atas situasi yang kita terima.
Kita juga mengenal adaya emosi positif, seperti kegembiraan, dan emosi negatif, seperti kemarahan dan kesedihan, meskipun suatu emosi itu dapat menjadi emosi yang berdampak positif maupun negatif tergantung dari situasinya (Ekman, 2003). Emosi positif dapat memainkan fungsinya sebagai pelindung. Dia dapat melindungi individu dari emosi negatif bahkan situasi yang stressful sekalipun .Emosi dapat di gunakan sebagai pelindung dari gejala depresi atau stress, dalam proses terapi pengalaman akan emosi positif juga digunakan menjadi salah satu metode.
Emosi positif, selain berfungsi sebagai pelindung, juga mempengaruhi proses negosiasi. Kita telah mengetahui bagaimanakah pengaruh marah, yang merupakan salah satu emosi negatif, pada proses negosiasi yang menggunakan komputer sebagai mediator. Dan melalui penelitian yang dilakukan oleh Carels dkk kita dapat mengetahui pengaruh mood negatif terhadap kesehatan. Penelitian Carels dkk menggunakan partisipan yang mempunyai penyakit jantung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mood negatif terhadap cardiac arrhythmia (detak jantung yang tidak teratur). Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa gabungan antara mood negatif dan cardiac arrhtythmia dalam frekuensi yang tinggi terjadi lebih sering pada pasien yang mempunyai gangguan fungsi jantung yang parah (Carels dkk, 2003). Dapat ditarik kesimpulan bahwa mood negatif kurang baik untuk pasien dengan gangguan fungsi jantung yang parah.

Pengaruh Emosi terhadap Tingkah Laku Sehari-hari
Gangguan emosi dapat membuat individu kesulitan bicara, bahkan gangguan emosi yang cukup lama akan membuat sesorang gagap dan sesorang yang gagap bisa berbicara relatif normal saat keadaaan menyenangkan, bahkan sistuasi disekolah yang membuat anak tidak tenang.
Seorang siswa yang mengalami penderitaan emosi dan frustasi mempengaruhi efektivitas belajar, contoh seorang anak yang tidak senang kepada gurunya bukan karena pribadi gurunya tapi karena terjadi sesuatu pada anak yang sehubungan dengan situasi dikelas. Jika dia merasa takut atau malu karena belum paham dengan pelajar matematika dikelas, maka ia memilih membolos.
Motivasi untuk belajar akan membantu anak dalam belajar, namun rangsangan-rangsangan kepada setiap anak berbeda-beda sesuai dengan kondisi anak, rangsangan-rangsangan yang menimbulkan perasaa
Orang yang tidak bisa mengendalikan emosi bisa merugikan diri sendiri dan orang lain, hidupnya bisa tidak senang. Bisa tidak memiliki teman, susah dalam bergaul, susah meraih cita-cita karena kurangnya efektivitas belajar, me n yang tidak menyenangkan akan mempengaruhi hasil belajar anak, sebaliknya rangsangan yang menyenangkan akan mempermudah anak belajar. ngalami berbagai hal gangguan dalam melakukan interaksi social di masyarakat, gangguan dalam pekerjaan dan berbagai maslah dalm kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA
Mulyatiningsih, Rudi. DKK., 2004, Bimbingan Pribadi, Belajar, dan Karier. Jakarta : Grafindo
Sunarto, Prof. Dr. H, 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Rieneka Cipta.
READ MORE - EMOSI